
Saat mengalami menstruasi atau haid, tubuh perempuan menjalani serangkaian proses biologis yang kompleks. Haid terjadi sebagai bagian dari siklus menstruasi, di mana lapisan dinding rahim (endometrium) yang menebal sebagai persiapan kehamilan mulai luruh dan keluar melalui vagina.
Proses ini kadang disertai dengan darah haid keluar sedikit di awal, lalu menjadi lebih banyak di hari-hari berikutnya. Volume darah haid yang keluar bisa bervariasi pada setiap individu dan dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti hormon, pola makan, stres, dan kondisi kesehatan reproduksi.
Selain keluarnya darah, tubuh juga mengalami perubahan hormonal yang memengaruhi berbagai sistem, termasuk suasana hati, energi, dan bahkan sistem pencernaan. Hormon estrogen dan progesteron mengalami fluktuasi tajam, yang bisa menyebabkan kram perut, nyeri punggung, kelelahan, serta perubahan emosi.
Pada sebagian perempuan, gejala ini cukup ringan, namun pada lainnya bisa cukup mengganggu aktivitas sehari-hari. Memahami apa yang terjadi pada tubuh saat haid penting agar perempuan bisa merawat dirinya dengan lebih baik selama periode ini.
Fase-Fase Menstruasi pada Tubuh Wanita
Setiap bulan, tubuh wanita mengalami siklus menstruasi yang berlangsung dalam rentang waktu yang bisa berbeda-beda pada setiap individu. Namun, secara umum, semua perempuan akan melalui empat fase utama berikut dalam siklus haidnya:
1. Fase Menstruasi (Haid)
Ini adalah fase pertama, dimulai dari hari pertama hingga sekitar hari kelima, di mana lapisan dinding rahim yang tidak dibutuhkan lagi luruh dan dikeluarkan melalui vagina dalam bentuk darah haid. Fase ini hanya terjadi jika wanita tidak sedang hamil.
Pada masa ini, biasanya terjadi perdarahan selama 2 hingga 7 hari. Banyak wanita juga merasakan nyeri di perut bagian bawah atau punggung akibat kontraksi rahim yang bekerja untuk mengeluarkan lapisan endometrium.
2. Fase Folikuler
Fase folikuler berlangsung dari sekitar hari ke-6 hingga hari ke-14. Di tahap ini, kadar hormon estrogen mulai meningkat, merangsang pertumbuhan kembali lapisan rahim agar siap menerima sel telur yang dibuahi.
Selain itu, hormon perangsang folikel (FSH) mendorong perkembangan folikel di ovarium. Folikel ini akan berkembang menjadi sel telur yang matang antara hari ke-10 hingga ke-14, menandai persiapan tubuh untuk ovulasi.
3. Fase Ovulasi
Fase ovulasi biasanya terjadi di sekitar hari ke-14 jika siklus menstruasi berlangsung 28 hari. Pada fase ini, lonjakan hormon luteinizing (LH) memicu ovarium untuk melepaskan sel telur yang sudah matang.
Setelah dilepaskan, sel telur bergerak menuju tuba falopi dan bersiap untuk proses pembuahan jika terjadi hubungan seksual. Jika tidak dibuahi, sel telur akan melanjutkan siklusnya ke fase berikutnya.
4. Fase Luteal
Ini adalah fase akhir dalam siklus menstruasi. Sel telur yang tidak dibuahi akan terus bergerak menuju rahim, sementara lapisan rahim tetap menebal sebagai bentuk persiapan tubuh, jika terjadi kehamilan.
Namun jika tidak ada pembuahan, maka hormon progesteron menurun, dan lapisan tersebut akan luruh, memulai siklus haid yang baru.
Peran Hormon dalam Siklus Menstruasi
Seluruh proses dalam siklus menstruasi diatur oleh berbagai hormon yang diproduksi oleh organ reproduksi dan juga otak. Berikut beberapa hormon penting yang terlibat:
- Estrogen
Diproduksi di ovarium, estrogen membantu memicu proses ovulasi dan berperan penting dalam pembentukan kembali lapisan rahim. Hormon ini juga bertanggung jawab atas perubahan fisik pada tubuh perempuan saat pubertas.
- Progesteron
Bersama estrogen, progesteron menjaga keseimbangan dalam siklus reproduksi dan sangat penting dalam mempersiapkan rahim untuk kehamilan. Hormon ini juga diproduksi di ovarium dan mendukung penebalan lapisan rahim.
- Gonadotropin-Releasing Hormone (GnRH)
Hormon yang berasal dari otak ini berfungsi untuk mengatur pelepasan hormon FSH dan LH yang memicu ovulasi.
- Follicle Stimulating Hormone (FSH)
FSH membantu mematangkan folikel di ovarium yang nantinya akan berkembang menjadi sel telur siap dibuahi.
- Luteinizing Hormone (LH)
LH diproduksi oleh kelenjar pituitari di otak, dan berperan penting dalam pelepasan sel telur dari ovarium (ovulasi).
Memahami setiap fase dalam siklus menstruasi dan peran hormon yang terlibat membantu perempuan lebih mengenali tubuhnya sendiri, serta lebih waspada terhadap perubahan yang tidak biasa.
Dengan pengetahuan ini, perempuan bisa menjaga kesehatan reproduksi dengan lebih baik dan mengambil langkah yang tepat jika muncul gejala yang mengganggu.
